Pages

Bahaya Penggunaan Formalin

Monday, December 14, 2015

Selama ini, masyarakat awam mengenal formalin sebatas bahan pengawet mayat atau yang sejenis. Formalin sendiri memiliki beberapa nama, antara lain: formaldehide, formal, metanal. Formalin merupakan cairan yang tidak berwarna dengan karakteristik bau yang menyengat, pedas, iritan, dan menghasilkan aroma terbakar. Formalin sebenarnya telah ditemukan kimiawan Rusia, Aleksander Butlerov, tahun 1859. Kemudian diidentifikasi oleh Hoffman tahun 1867 dengan rumus kimia H2CO.


Formaldehide bisa dihasilkan dari pembakaran bahan yang mengandung karbon, seperti asap dalam kebakaran hutan, asap knalpot kendaraan, asap tembakau, dan lainnya. Dalam atmosfir bumi, formaldehide juga dapat dihasilkan dari aksi cahaya matahari dan oksigen terhadap metan dan hidrokarbon lain yang ada di atmosfir. Dalam jumlah yang sangat kecil, juga dihasilkan sebagai metabolit organisme, termasuk manusia.Dalam atmosfir bumi, formaldehide berwujud gas, tetapi bisa larut dalam air. Di pasaran, dijual dalam bentuk cair dengan kadar larutan 37%, biasanya menggunakan merek dagang Formalin atau Formal. 

Secara industrial, formaldehide dibuat dari oksidasi katalik metanol. Katalis yang paling sering digunakan adalah logam perak atau campuran oksida besi dan molybdenum serta vanadium. Dalam sistem oksida besi yang lebih sering dipakai proses formox, reaksi methanol dan oksigen terjadi pada suhu 250 derajat Celcius dan menghasilkan formaldehide. Bila dioksidasi kembali, formaldehide akan menghasilkan asam formal yang sering ada dalam larutan dalam jumlah yang kecil.

Formaldehide dapat digunakan untuk membasmi sebagian besar bakteri, sehingga sering digunakan sebagai disinfektan (terutama di sektor peternakan), pembersih lantai, kapal, gudang, pakaian, dan membalsem untuk mematikan bakteri dalam mengawetkan bangkai.

Dalam industri, formaldehide digunakan dalam produksi polimer dan beberapa bahan kimia. Jika digabungkan dengan fenol, urea, dan melamin, formaldehide dapat menghasilkan resin termoset yang keras. Biasanya dipakai untuk lem permanen dalam industri kayu lapis dan karpet.

Sebagai formalin, larutan senyawa kimia ini sering digunakan sebagai insektisida pembasmi lalat dan serangga, bahan pembuatan sutera sintetik, zat pewarna, cermin, kaca, pengeras lapisan gelatin dan kerta dalam dunia fotografi, bahan pembuatan pupuk urea, bahan pembuatan produk parfum, bahan pengawet produk kosmetika dan pengeras kuku.

Penggunaan formalin yang tidak tepat sungguh sangat disesalkan dan memprihatinkan. Sejumlah survey dan pemeriksaan laboratorium oleh instansi yang berwenang, telah menemukan sejumlah produk pangan yang menggunakan formalin sebagai bahan pengawet. Praktik ini sebenarnya telah digunakan oleh produsen dan pengelola bahan pangan sejak beredarnya formalin di pasar.

Apabila kadar di udara mengandung lebih dari 0,1 mg/kg formaldehide, jika terhirup dapat menyebabkan iritasi membran mukosa yang menyebabkan keluar air mata, pusing, nyeri yang intens, tenggorokan terasa terbakar serta kegerahan. Jika terpapar formalin, misalnya terminum, dapat menyebabkan rasa mual, hematemesis, diare disertai darah, hematuria, anuria, asidosis, vertigo, dan kegagalan sirkulasi.

Dalam tubuh manusia, formaldehide dimetobalisir menjadi asam format, terutama pada hati dan sel darah merah sehingga meningkatkan keasaman darah. Asam format kemudian dapat diekskresikan dalam bentuk karbon dioksida dan air, atau dapat juga dikeluarkan lewan urin sebagai format atau dimetabolisir menjadi group metal yang labil.

Jika formalin terlanjur terhirup, segera minum air putih, susu atau obat yang mengurangi iritasi, norit, atau segera periksakan ke dokter agar segera dilakukan pemeriksaan dan perawatan secara profesional.

Sumber:
Suara Konsumen Indonesia Edisi VII/ Agustus-September 2007


Subscribe your email address now to get the latest articles from us

No comments:

Post a Comment

 
Copyright © 2015. Tapis Jakarta.
Design by Herdiansyah Hamzah - Distributed By Blogger Templates
Creative Commons License