Pages

Definisi Hadits Palsu

Monday, December 14, 2015

Hadits palsu dalam bahasa Arab dikenal dengan istilah hadits maudhu (alhaditsul maudhu’). Al-Maudhu’ secara bahasa merupakan bentuk isim maf’ul dari kata wadho’a yang berarti meletakkan, merendahkan, membuat-buat, dan menempelkan (Lisanul Arab oleh Ibnu Mandhur 8/389; Al-Qomus Muhith oleh Fairuz Abadi 3/94).

Sedangkan secara istilah, hadits maudhu adalah hadits yang dibuat-buat dan didustakan atas nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Dengan demikian, sebenarnya hadits maudhu bukanlah hadits, namun hanya bentuk kedustaan atas nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam (Lamahat an Ushulil Hadits oleh Syekh Muhammad Adib Sholih, hal. 305).


Sejarah Munculnya Hadits Palsu

Hal utama yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada para sahabatnya di antaranya adalah berbuat dan berkata jujur. Para sahabat selalu komitmen dengan ajaran ini. Namun setelah generasi mereka muncul sekelompok orang yang dikuasai hawa nafsu, terutama saat terjadinya fitnah dalam tubuh umat Islam. Kemunculan fitnah ditandai dengan terbunuhnya Umar bin Khathab, kemudian Utsman bin Affan, serta terjadinya perang Jamal dan Shiffin.

Fitnah terus bertambah dari waktu ke waktu, hingga mencapai puncaknya diakhir zaman tabiin. Kaum muslimin saat itu saling berselisih antara satu golongan dengan golongan lainnya. Mereka menggunakan dalil dari Al-Qur’an dan hadits untuk menguatkan golongannya maupun untuk melemahkan lawannya. Kemudian mereka membuat hadits palsu yang disandarkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk menguatkan golongannya masing-masing. Namun tentang kapan tepatnya muncul hadits palsu, maka tidak diketahui (A Wadh’u fil Hadits 1/180, 202 oleh Dr. Umar Falatah).

A.    Sebab-Sebab Pemalsuan Hadits

1. Perselisihan Politik

Akibat gejolak politik yang terjadi saat itu, muncul banyak kelompok yang masing-masing ingin menguatkan mazhabnya meskipun dengan memalsukan sebuah hadits. Kelompok yang paling banyak melakukan pemalsuan hadits adalah syi’ah. Syi’ah banyak membuat hadits palsu seputar keutamaan Ali bin Abi Thalib, contohnya hadits, “Barangsiapa yang ingin melihat ilmu Adam, kepahaman Nuh, kelembutan Ibrahim, kezuhudan Yahya bin Zakariya, kekuatan Musa bin Imran, maka lihatlah Ali bin Abi Thalib.” (Al Fawa’id Al-Majmu’ah no. 1098 oleh Imam Asy-Syaukani.)
  1. Kemudian beberapa kelompok lain tatkala melihat syi’ah membuat hadits palsu untuk menggambarkan keutamaan Ali diatas Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Muawiyah, maka mereka pun membuat hadits palsu tandingan, seperti, “Orang-orang yang terpercaya menurut Allah itu ada tiga, saya (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam), Jibril, dan Muawiyah.”( Tanzihus Syari’ah 2/4 oleh Ibnu ‘Aroq.)
  2. Perbuatan Orang-Orang Zindiq dan Ilhad
Orang-orang zindiq dan ilhad menafsirkan makna Al-Qur’an dan sunnah dengan penafsiran yang rusak serta bertentangan dengan pokok-pokok akidah Islam. Mereka adalah orang-orang yang menyembunyikan kekufuran, namun secara lahir menampakkan keislaman. Di antara mereka juga terdapat orang-orang yang tidak beragama atau atheis.

3. Fanatik Pada Negara, Bahasa, atau Imam.

Para Khalifah Bani Umayah hanya mengangkat orang-orang Arab untuk mengurusi pemerintahannya, sehingga kalangan non Arab merasa terpinggirkan. Oleh karenanya, kalangan non Arab membuat hadits palsu yaitu, “Sesungguhnya bahasa para malaikat yang berada di sekitar ‘arsy itu menggunakan bahasa Persia. Dan apabila Allah mewahyukan sesuatu yang bersifat lembut, maka Dia mewahyukannya dengan bahasa Persia. Namun jika wahyu itu bersifat keras, maka dengan bahasa Arab.” (Tanzhius Syari’ah 1/36)

Demikian juga orang-orang yang fanatik buta terhadap seorang imam, mereka pun membuat hadits palsu, di antaranya, “Akan ada dikalangan umatku seseorang yang bernama Muhammad bin Idris. Dia lebih berbahaya atas umatku daripada iblis. Dan akan datang dikalangan umatku seseorang yang bernama Abu Hanifah, dia adalah penerang umatku.” (Al-Maudhu’at 2/49 oleh Ibnul Jauzi )

4. Tukang Cerita

Adanya orang-orang yang hobi bercerita dan memberi nasihat, namun mereka tidak berilmu. Mereka ingin orang lain mendengar cerita dan nasihatnya. Untuk menarik perhatian orang lain, maka mereka membuat hadits-hadits palsu. Di antara mereka ada yang hanya ingin menarik perhatian orang lain, akan tetapi banyak pula yang bertujuan untuk mencari uang.

5. Perbedaan Pendapat Dalam Masalah Akidah dan Fikih

Beberapa kelompok mazhab yang sangat fanatik, mereka membuat hadits-hadits palsu untuk mendukung pendapatnya. Misalnya hadits yang berbunyi, “Barangsiapa yang mengangkat kedua tangannya setelah ruku’, maka tidak ada solat baginya.” (Al-Maudhu’at 2/197)

6. Orang-Orang yang Bertujuan Baik, Namun Salah Jalan

Sebagian orang shalih, ahli zuhud, dan ibadah, tetapi tidak memiliki cukup ilmu, mereka senang membuat hadits-hadits palsu untuk menasihati orang-orang yang malas dan lalai beribadah agar mereka mengingat kembali akhirat. Mereka menyangka bahwa perbuatannya itu bisa mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala.

7. Menjilat Penguasa

Banyak ulama jahat yang mendekati penguasa dengan memberi fatwa, pendapat, atau hadits palsu untuk menyenangkan penguasa tersebut.

B.     Ciri-Ciri Hadits Palsu

- Dari Sisi Sanad
Sanad adalah rangkaian para perawi hadits yang menghubungkan antara pencatat hadits sampai ke Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Terdapat banyak hal untuk bisa mengetahui kepalsuan sebuah hadits dari sisi sanadnya, di antaranya:
  1. Salah satu perawinya adalah pendusta dan hadits itu hanya diriwayatkan oleh pendusta tersebut, serta tidak ada perawi tsiqah (terpercaya) yang meriwayatkannya.
  2. Para pemalsu hadits mengakui perbuatannya sendiri. Hal ini seperti yang dilakukan Abdul Karim bin Abi Auja’ yang mengaku telah memalsukan empat ribu hadits.
  3. Kedustaan perawi diketahui oleh ulama lain.
  4. Terdapat banyak bukti yang menunjukkan bahwa perawi memang seorang pendusta. Seperti penganut syi’ah fanatik yang meriwayatkan hadits palsu untuk mencela sahabat dan mengagungkan ahlul bait.
  5. Dari Sisi Matan
Matan adalah isi hadits. Untuk mengetahui kepalsuan sebuah hadits dari sisi matan, maka dapat dilihat dari ciri-ciri sebagai berikut:
  1. Tata bahasanya yang sangat buruk. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah seseorang yang sangat fasih dalam mengungkapkan kata-kata, karena Allah Ta’ala menganugerahkan beliau dengan jawami’ul kalim (kata singkat yang mengandung keluasan makna).
  2. Maknanya rusak. Contohnya adalah hadits, “Bahwasanya kapal Nabi Nuh mengelilingi Ka’bah tujuh kali, lalu solat dua raka’at di belakang makam Ibrahim.” (Al-Maudhu’at 1/100)
    1. Bertentangan dengan dalil Al-Qur’an dan hadits yang sahih, sehingga hadits palsu itu tidak bisa dibawa pada makna yang benar. Misal hadits, “Anak zina dan anak keturunannya sampai tujuh turunan tidak akan masuk surga.” (Al-Fawa’id Al-Majmu’ah no. 594). Hadits tersebut bertentangan dengan firman Allah Ta’ala“Seseorang tidak akan menanggung dosa orang lain.” (QS. Al-Isra’: 15)
    2. Bertentangan dengan fakta sejarah di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Seperti hadits yang menyatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menggugurkan kewajiban membayar jizyah orang-orang Yahudi di Khaibar yang ditulis oleh Mu’awiyah bin Abu Sufyan dan disaksikan oleh Sa’ad bin Mu’adz. Padahal diketahui dalam sejarah bahwa jizyah belum disyari’atkan saat peristiwa perang Khaibar yang terjadi pada tahun ke-7 Hijriyah, karena jizyah baru disyari’atkan saat perang Tabuk tahun ke-9 Hijriyah.
    3. Hadits itu sesuai dengan mazhab perawinya, kemudian ia dikenal sebagai pengikut mazhab yang fanatik.
    4. Hadits yang seharusnya diriwayatkan banyak orang karena terjadi di sebuah tempat yang dapat didengar banyak orang dan termasuk perkara besar, namun hanya seorang saja yang meriwayatkannya. Misalnya sebuah riwayat yang disandarkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam atas diangkatnya Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah, maka dapat diketahui riwayat itu adalah kedustaan belaka.( Minhajus Sunnah An-Nabawiyah 7/440)
    5. Hadits itu menunjukkan adanya ganjaran pahala yang sangat besar untuk suatu amal perbuatan yang kecil, atau sebaliknya. Contohnya hadits yang berbunyi, “Barangsiapa yang solat dua raka’at, maka dia akan mendapatkan pahala Nabi Musa dan Isa.”( Al-Maudhu’at 2/112)
    6. Hadits itu terdapat dalam sebuah kitab, namun tidak ada yang meriwayatkannya dan tidak memiliki sanad.
Hukum Memalsukan Hadits

Para ulama telah sepakat tentang haramnya berdusta atas nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, apapun sebab dan alasannya. Adapun sebagian kelompok umat Islam, sebagaimana halnya kelompok Karomiyah, yang membolehkan berdusta atas nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk memberi semangat kepada umat dalam beribadah, serta untuk menakuti mereka dari perbuatan dosa, maka pendapat kelompok ini tidak perlu diperhatikan.

Hukum Meriwayatkan Hadits Palsu

Orang yang meriwayatkan hadits palsu, ada kemungkinan ia mengetahui kepalsuannya, tetapi mungkin juga ia tidak mengetahuinya. Jika ia meriwayatkan hadits yang tidak diketahui bahwa hadits itu palsu, maka tidak berdosa, meskipun dianggap sebagai perbuatan mungkar. Namun tetap dia dikhawatirkan masuk dalam golongan yang disabdakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam“Barangsiapa yang meriwayatkan sebuah hadits dariku yang dia sangka bahwa hadits itu dusta, maka dia termasuk salah satu pendusta.” (HR. Muslim). Jika ia mengetahui bahwa hadits itu palsu, maka ada dua kemungkinan:
  1. Meriwayatkan hadits palsu tersebut untuk menerangkan kepalsuannya. Para ulama sepakat bahwa perbuatan itu dibolehkan.
  2. Bila meriwayatkannya bukan untuk menjelaskan kepalsuannya, maka perbuatan itu diharamkan.( Al-Wadh’u fil Hadits 1/323, 324)
Hukum Mengamalkan Hadits Palsu

Para ulama telah bersepakat tentang keharaman meriwayatkan hadits palsu, termasuk mengamalkannya. Imam Zaid bin Aslam berkata, “Barangsiapa yang mengamalkan sebuah hadits yang palsu, maka dia salah satu pembantu setan.” (Tadzkiratul Maudhu’at oleh Al-Fatanni, hal. 7)


Subscribe your email address now to get the latest articles from us

No comments:

Post a Comment

 
Copyright © 2015. Tapis Jakarta.
Design by Herdiansyah Hamzah - Distributed By Blogger Templates
Creative Commons License